KETERKAITAN ANTARA PERILAKU KONSUMEN DENGAN KEBUDAYAAN YANG DINAMIS
Oleh: Febriani Vira Setyowati
S.1115.013
Sifat manusia sebagai makhluk sosial tak lepas dari ketergantungan dengan orang lain. Dari sifat alamiah itu maka terbentukalah sebuah sistem kehidupan. Dari waktu ke waktu kehidupan terus berlangsung. Dari kelangsungan hidup itulah kemudian berbagai sistem diterapkan. Penerapannya pun berbeda-beda dari segi tempat dan waktu. Keanekaragaman sistem tersebut yang menimbulkan adanya budaya dalam suatu kelompok. Manusia sendiri tidak akan menyadari kapan budaya itu terbentuk. Lazimnya suatu kelompok menjalankan budaya itu karena mereka mengikuti perilaku nenek moyangnya.
Budaya adalah cara hidup yang mengalami perubahan dan dimiliki oleh setiap kelompok masyarakat. Budaya merupakan bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari diri seseorang dan menganggap disebabkan faktor genetis. Ketika seseorang berusaha mencari cara berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan tersebut.[1] Oleh karena itu, budaya bukan sesuatu yang pasti. Karena keberadaannya tidak bisa diprediksikan. Budaya itu sendiri bisa menular dari satu kelompok ke kelompok lain atau dengan cakupan yang lebih luas.
Adapun unsur-unsur yang membangun budaya menurut Melville J. Herskovits yaitu alat-alat teknologi, keluarga, sistem ekonomi, dan kekuasaan politik. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas, maka suatu kebiasaan atau adat yang ada dalam suatu kelompok masyarakat terbentuk oleh pola hidup masyarakat itu sendiri. Keempat unsur diatas merupakan unsur pokok pembentuk budaya. Masing-masing manusia mempunyai akal. Dari akal itu mereka berpikir tentang perilaku hidup. Dan suatu kelompok masyarakat terbentuk karena adanya kesesuaian antar individu dalam berperilaku, sehingga membentuk satu kesepakatan atau satu tujuan. Untuk memperlihatkan kesatuan, mereka membentuk satu budaya khas sebagai situs atau ciri. Hal itu berfungsi sebagai penanda suatu kelompok dan kelompok lain tidak bisa mengikuti sistem atau budaya mereka secara keseluruhan.
Melville menyebutkan sistem ekonomi termasuk salah satu unsur pembangun budaya. Maka kelangsungan hidup suatu kelompok masyarakat tak lepas dari sistem ekonomi. Konsep sistem ekonomi merupakan bagian yang dikumpulkan dari berbagai pola perekonomian yang berlaku di suatu bangsa. dari sistem ekonomi ini dapat diketahui cara suatu negara dalam memutuskan materi apa yang akan diproduksi dan akan diketahui seberapa besar peran dunia swasta dan dunia dalam negeri dalam hal berproduksi.[2] Peranan budaya sangat berpengaruh besar dalam sistem ekonomi. Salah satu yang menentukan kelangsungan sistem ekonomi adalah perilaku konsumen di suatu kelompok atau negara.
Adapun faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah kebudayaan. Budaya adalah salah satu pengaruh yang paling kuat dalam perilaku konsumen. Apabila kebudayaan sudah sangat melekat di dalam diri konsumen, maka konsumen tidak mudah untuk terpengaruh oleh budaya asing.[3] Contohnya seorang konsumen sangat cinta dengan kebudayaan bangsanya maka dia akan terus menggunakan produk yang dihasilkan oleh negaranya. Karena dia merasa sesuai dengan keinginan terhadap suatu barang atau produk. Tetapi perilaku seperti itu bisa berubah saat budaya asing memasuki suatu bangsa. Mereka akan membawa budaya mereka untuk mempengaruhi pola pikir konsumen di suatu bangsa. Mereka akan mempromosikan produk mereka secara besar-besaran dan menawarkan teknologi yang mereka miliki. Itulah salah satu misi suatu bangsa asing untuk memajukan negaranya. Sasaran mereka tidak hanya masyarakatnya, tetapi masyarakat bangsa lain yang menjadi sasaran utamanya. Karena saat mereka telah terpengaruh oleh produk luar negeri lambat laun mereka meninggalkan kebudayaannya dan meninggalkan produk yang dihasilkan oleh bangsanya. Jika telah terjadi hal seperti itu suatu bangsa bisa mengalami kemunduran. Karena masyarakatnya sudah tidak mencintai produk dalam negeri.
Faktor-faktor sosial juga mempengaruhi perilaku konsumen seperti keluarga, status, dan peranan sosial. Keluarga merupakan pengaruh paling besar dalam pembentukan pola pikir seseorang. Hal yang juga berperan dalam menentukan kelanjutan hidup suatu masyarakat adalah keluarga. Berawal dari sekumpulan keluarga yang mayoritas memiliki gaya hidup yang sama maka akan terbentuk suatu ciri khas dari kelompok masyarakat yang akan terbentuk. Di sini kita dapat membedakan dua macam keluarga dalam menentukan jenis konsumen. Pertama, keluarga sebagai sumber orientasi yaitu orang tua. Kedua, keluarga sebagai sumber keturunan, yaitu adanya hubungan saling mempengaruhi (suami-istri dan anak).[4] Sebaiknya suatu keluarga menerapkan pola pikir positif terhadap keturunannya. Karena pola pikir yang positif akan menghasilkan generasi yang positif pula. Pembentukan
karakter juga tak kalah penting. Dimulai dari keluarga yang menerapkan untuk meminimalisir dalam mengkonsumsi barang-barang tersier dan membiasakan untuk memanfaatkan kebutuhan primer dengan sebaik-baiknya.[5] Hal itu ditujukan agar keturunannya bisa menentukan prioritas terhadap dirinya dan mereka pun akan melakukan hal yang sama untuk keturunan selanjutnya. Berawal dari keluarga yang membentuk pola pikir seperti itu maka akan terbentuk para konsumen yang selektif dalam mengkonsumsi suatu produk.
Selain keluarga, status sosial juga mempengaruhi perilaku konsumen. Mayoritas konsumen akan mengkonsumsi suatu produk sesuai dengan status sosialnya. Status sosial terbentuk dari banyak aspek. Salah satunya adalah lingkungan dimana dia melakukan aktivitas sehari-hari. Menurut saya tipe konsumen dibagi menajdi empat tipe yaitu konsumen kalangan atas yang sehari-harinya bekerja di lingkungan perkantoran dengan jabatan tinggi di perusahaan itu atau yang memiliki suatu usaha besar. Mereka cenderung mengkonsumsi produk-produk yang memiliki merek atau brand terkenal. Bahkan mereka lebih terhormat jika membeli produk impor. Kedua, konsumen kalangan tengah yang sehari-harinya bekerja di lingkungan perkantoran dengan jabatan sebagai staf atau para pedagang yang hanya mempunyai satu atau dua toko. Mereka cenderung mengkonsumsi produk-produk yang memiliki kualitas baik dengan harga yang tidak terlalu mahal. Tipe kedua ini merupakan tipe yang ideal karena mereka bisa memenuhi kebutuhannya dengan produk yang terjamin kualitasnya. Ketiga, konsumen kalangan bawah yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh pabrik, pedagang asongan, atau kerja di perkantoran sebagai pelayan jasa. Mereka cenderung mengkonsumsi produk-produk lokal dengan kualitas standar tetapi bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka. Terakhir, konsumen dari kalangan tidak mampu yaitu orang yang belum bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-harinya. Mereka cenderung mengkonsumsi produk dengan kualitas rendah dengan harga yang murah. Karena mereka harus mempunyai siasat untuk bertahan hidup.
Seperti yang saya jelaskan di atas, kita perlu memperhatikan konsumen tipe terakhir yaitu konsumen dari kalangan tidak mampu. Dengan budaya asing yang terus masuk ke Indonesia, mereka ingin lebih dipandang. Pola pikir seperti inilah yang perlu diluruskan karena mereka berpikir untuk mengkonsumsi produk-produk bermerek tinggi agar dianggap tidak ‘tertinggal zaman’. Sedangkan kebutuhan pokok belum terpenuhi dengan sempurna. Didukung dengan masuknya produk dari luar negeri dengan harga yang masih bisa terjangkau oleh mereka. Jadi mereka lebih mementingkan mode atau trend daripada untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pola pikir seperti itu juga terbentuk karena konsumen dari kalangan atas yang terus mengkonsumsi produk mewah sehingga mereka yang kalangan bawah merasa iri. Karena budaya telah merubah sistem kehidupan. Dahulu rasa saling menghormati dan menghargai begitu kuat antar sesama masyarakat, tidak memandang status sosial. Tetapi sekarang mereka yang berada dikalangan atas cenderung mementingkan kebutuhan pribadinya daripada kebutuhan sosial. Karena kalangan atas cenderung menguasai pendapatan dan jarang memperhatikan keadaan masyarakat dibawahnya. Terkadang masyarakat dari kalangan bawah juga kurang berusaha untuk memperbaiki kehidupannya, malah lebih mementingkan trend yang sedang booming.
Sekitar dua puluh tahun lalu saat Indonesia belum mengalami krisis moneter, masyarakatnya cenderung bersifat statis. Mereka lebih memanfaatkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan belum banyak budaya luar yang masuk. Hampir tidak ada kesenjangan sosial diantara masyarakat. Mereka yang memang berada dikalangan atas saling membantu antar masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan. Mereka juga lebih banyak mengkonsumsi produk dari dalam negeri. Walaupun ada yang mengkonsumsi produk luar negeri itupun sesuai dengan kebutuhan untuk masyarakat banyak, bukan untuk individu. Seperti televisi, handphone atau telepon seluler, kendaraan bermotor dll. Barang-barang itu mereka gunakan untuk kepentingan umum. Karena sikap toleransi antar sesama masih kuat terjalin sehingga tidak ada perbedaan yang sangat nyata di suatu kelompok masyarakat.
Keadaan diatas tidak terlepas dari pengaruh budaya yang bersifat dinamis. Didukung dengan sifat manusia atau masyarakat yang dinamis pula. Jadi, perubahan terhadap perilaku konsumen sangatlah cepat. Apalagi sekarang media massa dan media elektronik didominasi dengan acara atau artikel tentang budaya yang menjadi trend dilingkup nasional maupun internasional. Contohnya saat ini lagi trend model jilbab yang dikombinasikan dengan dalaman kerudung ‘ninja’. Disatu sisi trend itu berdampak postif karena para perempuan muslim jadi tertarik untuk memakai jilbab dan harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau sesuai dengan kualitas bahan jilbab itu. Tetapi jika kita lihat disisi lain, dunia fashion sedang menyerang para remaja yang menggunakan baju dengan model yang terbuka bagian leher hingga dada layaknya pakaian yang digunakan para artis. Para artis pun mengikuti budaya orang barat yang memang cenderung liberal. Sehingga para remaja yang menggunakan pakaian seperti itu terlihat lebih anggun dan tidak ‘tertiggal zaman’ dan mereka akan mengkonsumsi pakaian seperti itu yang biasanya diproduksi dari luar negeri dengan harga yang lumayan mahal. Kenyataan yang terjadi, para remaja lebih tertarik untuk mengikuti trend yang kedua karena peran artis sangat kuat bagi masyarakat. Para artis atau model yang menjadikan pakaian seperti itu sebagai trend modern.
Jadi, kebudayan dan perilaku konsumen mempunyai hubungan yang erat. Selama budaya terus berkembang maka pola hidup masyarakat pun akan mengalami perubahan. Karena sistem ekonomi adalah pembentuk kebudayaan suatu bangsa dan kebudayaan juga membentuk karakter masyarakat dan pola kehidupan di suatu bangsa. Khususnya pola dalam mengkonsumsi suatu barang atau produk. Karena manusia harus terus memenuhi kebutuhannya untuk bertahan hidup. Yang terjadi saat ini adalah masyarakat cenderung bersifat konsumtif dan enggan untuk mengolah sumber daya alam yang tersedia. Dari perubahan perilaku seperti itulah kita harus memulai untuk memperbaiki keadaan yang akan berdampak buruk dimasa yang akan datang. Pemerintah sebaiknya membatasi kesempatan kerja bagi orang asing yang ingin membuka lapangan kerja di Indonesia. Hal ini ditujukan agar sumber daya alam yang ada dikelola oleh orang Indonesia sendiri. Sebagai masyarakat kita juga harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi masyarakat intelek yang berkompeten agar bisa mengontrol keadaan negeri sendiri. Solusi terefektif adalah dengan menerapkan pola hidup sederhana dalam kehidupan masing-masing individu dan didukung dengan peran pemerintah yang memegang wewenang atas pembuatan undang-undang tentang kesejahteraan masyarakat.

Comments
Post a Comment